Link Worth

Duhhh…. Gak Usah jadi "Orang Baik", dehhh!

Written on November 6, 2007 – 5:03 pm | by nona |

Yuhuuu skarang giliran saya yg posting.. *duhhh, segitu senengnyaaa.. seneng apa grogi, yah? Ehem.. ehem..* Ok, jadi begini.. beberapa waktu yg lalu, saya sempet maen2’ ke blog temen saya ini. Di sana, si temen ngepostingin tentang kekurangsenangannya terhadap orang-orang miskin yg ada di Ibukota. Menurutnya, orang2 miskin itu hanyalah orang2 yg mau seenaknya sendiri and bla.. bla.. bla.. *silahkan lihat sendiri postingannya ;)* And then, saya tertarik untuk memberikan komentar pada postingan itu:

· keritiKentang // Oct 30th 2007 at 6:40 pm

Kalo dilihat daRi teori Utilitarianisme yang diuatarakan oleh Jeremy Benthamlah yg dikenal dengan semboyannya: The Greatest Happiness of The Greatest Number (perbuatan yang baik secara moral adalah perbuatan yang menghasilkan manfaat yang terbesar bagi sebanyak mungkin orang), coba deh dipikir2 lagi. gembel2 yg ada di Jakarta tuh sebenernya lebih banyak mendatangkan manfaat atau kerugian, sih?

Kalo cuma mengandalkan Keadilan Distributif, jangan deh! pemerintah tuh susah diandelin kalo soal gini2an. harusnya memang mereka tuh inisiatif kalo senadainya gak kunjung sukses di ibukota, pasti tinggal di kampung halaman dan menggarap lahan sendiri, serta membangun rumah di dekat hamparan padi yg hijau nan jauh dari polusi akan lebih menguntungkan dan menentramkan.

Saya yakin yg kak Tasa mksdkan di sini bukan orang miskin dalam artian miskin secara finansial aja. tp juga miskin segala2nya. kalo menurutku yg harus diralat di sini, yg monyet itu bukan orang miskin. tp GEMBEL! Gepeng, ato apalah itu namanya yg sangat mengganggu ketertiban kota dan gak memberikan kontribusi apa pun buat ibukota.

 

 

Gak lama, datang sebuah komentar yang ingin mengkritik komentar saya *dia bukan anggota KeritiKentang, kok! Hehe.. :D*. Begini bunyi kritikannya..:

 

· Pemburu // Oct 31st 2007 at 4:21 pm

@Kritikkentang
Saya rasa kita gak bisa menyalahkan sepenuhnya (tanpa ampun) para pengemis atau gembel atau pengamen yang ada di Ibukota ini tanpa punya solusi nyata yang bisa segera direalisasikan. Saya rasa tentu saja bukan keinginan mereka menjadi seperti itu, seharusnya kita yang berkecukupan ini lebih banyak bersyukur karna bagi kita untuk sekedar makan saja bukan sesuatu hal yang sulit, coba anda bayangkan jika anda melihat dari kaca mobil atau dari dalam bis seorang gembel atau pengamen yang dijalan raya itu adalah ayah anda saya rasa anda akan menangis.

 

Merasa masih ada yg perlu dibahas, saya pun kembali membalas komentar si Pemburu. Kali ini saya pikir pake URL blog saya ajalahhh… kayanya udah menyangkut masalah pribadi nih.. *hahhh..? masa sih, Ke’..? xP yah, ’judul’nya aja bawa2 ”Ayah”.. hohooo.. *:

 

 

Nona Nieke,, // Nov 1st 2007 at 10:05 am

@ Pemburu: sekali pun miskin, insyaAllah saya gak akan memperbolehkan ayah saya mengemis! masih banyak cara lain yg bisa dilakukan kalo mau hidup enak asal mereka tekun, rajin, dan mau bekerja keras!

-keritiKentang-

 

· Pemburu // Nov 1st 2007 at 2:52 pm

@nonanike
Assalammualaikum mbak, tepat sekali yang mbak katakan manusia akan bisa sukses jika menjadi orang yang tekun, rajin, dan mau bekerja keras, sementara beberapa pengemis dan gembel tersebut adalah orang-orang yang masih sehat dan kuat, bahkan adapula beberapa pengemis yang sebenarnya merupakan sindikat yang teroganisir, tapi hal tersebut tidak menutup kemungkinan sebagian pengemis dan pengamen tersebut adalah orang yang benar-benar kesulitan, lapar dan belum mendapatkan cukup makan bagi keluarganya dari kerajinan, ketekunan dan kerja keras mereka kan? saya rasa beberapa kenyataan itu ada yang memang pahit.

 

Waduh, si Pemburu kurang puas juga rupanya, akhirnya saya kembali memberikan argumentasi sekaligus melanjutkan komentar saya sebelumnya *karena waktu membalas komennya yg pertama, saya gak bisa OL lama2. Jadi komennya dipenggal dulu..* :

 

· nona nieke,, // Nov 3rd 2007 at 1:18 am

@ Pemburu:

wa’alaikumsallam Pemburu [mas?or mbak?],
menurut saya tetap aja kalo mengemis itu adalah suatu tindakan yang hina dan rendah. ini juga salah satu didikan ayah saya, kok! gak usah khawatirkan ayah saya, beliau udah sangat bijak memberikan petuah2 spt; lebih baik kalian biarkan Saya tinggal sendirian kemudian hidup dengan uang pensiunan drpd kalian bawa Saya ke panti jompo atau kalian biarkan Saya mengemis..!

btw, yg saya tegaskan di sini pengemis! bukan pengamen. beberapa pengamen yang memang memiliki bakat menurut saya tidak bisa disamakan dengan pengemis. tp pengamen yg asal nyanyi dan cuman bisa berisik biar kita2 pd kepaksa kasih duit itu sama aja sama pengemis!

intinya, pengemis itu kumpulan org2 yg hanya bisa memberikan beban kepada negara, sebab musababnya dia mengemis, gak usah ditanyakan lagi. yg jelas mereka gak bekerja dengan giat.!lihat aja tuh mereka tinggal merebahkan telapak tangan mereka.. org cacat aja masih bisa berkarya, kok!

overall, persepsi kita bisa berbeda2, mbak/mas..
tergantung gimana cara pandang kita terhadap sesuatu..

Wassallam

 

Trus.. trus.. akhirnyaaa… si Pemburu membalas lagi *dan lagi..* komentarnya:

 

· Pemburu // Nov 5th 2007 at 2:42 pm

@nike
panggil saja saya mas pemburu atau cukup pemburu saja. Sebelumnya saya minta maaf karna saya tidak bermaksud apa2 terhadap Ayah anda, maksud dari pengandaian saya terhadap kejadian tersebut hanya mengajak anda agar sedikit lebih toleran, sedikit lebih memiliki rasa sosial, dan jika bisa sedikit memiliki rasa kasih terhadap pengemis yang notabenenya adalah saudara anda (kemungkinan besar saudara seiman dan yang paling mungkin adalah saudara sebangsa) terlepas dari segala penyebab mereka mengemis. yups setiap orang tentu mempunyai pandangan yang berbeda, menurut saya mengemis tidaklah lebih rendah dan hina dari mencuri atau korupsi dan mengemis menurut saya bukanlah hal yang rendah dan hina selama hal itu dilakukan dengan terpaksa (orang cacat juga ada yang mengemis kan? jika ada bukankah hal tersebut dilakukannya karena keterpaksaan?)


 

Ok2.. saya rasa cukup ’nyespam’nya sampai di situ aja.!. berhubung juga saya udah ndak enak sama si empunya blog *karena nyamfah di kolom komennya..* Saya pikir kalo mau diterusin, bisa panjang.. yasudah, skalian aja bikin posting *sebelumnya makasih banyak buat si Pemburu karena saya jd punya bahan postingan di sini! Hihiii..*

 

Pertama2, saya mau menjawab komentar mas Pemburu yg terakhir dulu. Setelah itu baru kita lihat pokok permasalahan dan saran2nya, okeyh..? *duhhh, berasa sedang membawakan presentasi pas kuliah nih gw! xP* First of aLL, ndak perlu minta maaf, mas..! sante aja.. Kedua, soal toleran, rasa sosial, rasa kasih, atau apa pun itu yg Anda sebut2.. saya pikir ndak perlu juga ajar2kan saya bagaimana caranya.. *yah, sebelumnya makasih karena udah ngajak2*. Toh Anda ndak tau saya, khan? *apa jangan2 tau? :D* Anda gak pernah benar2 tau seberapa bejat saya, dan gak perlu tau juga seberapa besar kontribusi saya untuk bangsa ini, untuk orang2 susah di negeri ini, untuk orang2 yg *Anda sebut2* saudara seiman saya… atau untuk siapa pun! Masak cuman dari komen ginian aja Anda udah bisa prediksi saya ini begini begitu *maaf, habis, ngajak2 sihh..*. Ketiga, saya menghargai apa pun pandangan Anda! Soal Korupsi itu lain persoalan. Kalo mau gontok2kan mana yg paling rendah dan hina antara koruptor atau pengemis, yahhh.. gak penting juga. Hampir sama aja buat saya!

 

Pembenaran saya soal pengemis ini adalahhh..:

 

1. Hasil obrolan saya dengan Ayah saya kmarin ttg persoalan ini *nah lho… saya adukan lho ke Ayah saya xD*, menurut kepercayaan kami, Tuhan tidak menyukai orang yang senantiasa meminta2 di dalam hidupnya! *kalo mau tau hadistnya, silahkan menghubungi ustadz2 terdekat! ;D*

 

2. Orang cacat yg mengemis itu…. ya Allahhh… plisss donk… baru dikasi kekurangan aja ‘gak mau’ nyari kelebihan yg laen..! ttp aja saya ndak terima kalo org cacat itu dianggap ’sah’ untuk mengemis! Mereka juga punya kedudukan yg sama dengan manusia normal, kok..! jadi mereka juga punya hak untuk berkarya! Knapa harus dengan mengemis??? Helloo… LSM2 pada kmana aja, yaaa? *ok, saya cape’ menghimbau2 pemerintah! ;)*. Toh org cacat yg ’kepepet’ juga ada kok yg jadi atlet! Ada juga yg jadi seniman! Knapa siiiihhhh…harus mengemisss?

 

3. Pengemis itu gak tertib! Apa yang mereka lakukan jelas2 bisa membahayakan diri mereka dan orang lain! Gak gunaaaa juga’ lo mau ngesot2 sampe berapa kilo ato ngegosongin muke lo kayak negro hanya untuk minta2 duit seiprit kalo buntut2nya lo bisa mati gara2 itu! *yahhh, mati karena kedekilan ato kegosongan barangkali?? Emang ada, ya? x)*

 

4. Kedudukan mereka di Ibukota tuh gak jelas! Yakin deh… banyak dari mereka yg ndak terdaftar, ndak punya kartu penduduk, dan gak mengurusi administrasi2 penting lainnya *boro2 mau ngurus, mbak.. mbak.. makan aja susah! ;)*. Mereka itu membangkang! Mendirikan rumah liarlahhh, tidur2an di teras toko lha, jelas2 ndak dibolehin pemerintah! Kalo udah digusur atau dirazia..? udah dehhh, Drama Queen smuanya!

 

5. Gak menutup kemungkinan ada sindikat pengemis yanggg… ya Allahhhh… bejattt.. bejattt..! elo2 yg pada mau amal malah disalahgunakan sedekahnya! *at least lo gak tau ini..*

 

6. Daaaannnn… faktor2 lainnya yang maaaaasiiiihhh banyak lagi yg pengen saya jabarkan kalo2 ni blogspot bisa dibikin berlembar2 kayak buku! ;)


 

 

So..? Kalo boleh cuap2 secara teori, gak perlu ada pengemis di Ibukota ini kalo2:

 

1. Elo gak sok2an ngasi2 duit ke pengemis sampe2 mereka nagih dan betah menjalani ’profesi’ sebagai pengemis!

 

2. Elo bisa bijak mengeluarkan ’duit lebih’ lo, mempertimbangkan dengan bijak ke arah mana sebaiknya lo bersedekah!?

 

3. Elo bisa joinan sama temen2 lo buat buka pelatihan ato lembaga apaaa gitu buat mengarahkan orang2 cacat agar mereka bisa lebih produktif *kalo ini sukses, lo juga dapet pahala karena ini bisa membangkitkan kepercayaandiri mereka!*

 

4. Elo ngomong deh tuh sama pengemis2 itu.. *skali2 ajakin pengemis ngobrol2 juga bole, kok!*, ”Udahlahhh… balik kampung aja.. hidup di kampung itu masih lebih enak ko dibandingin ngemis di Ibukota..!

 

5. Elo harus laporin sama polisi kalo2 ngelihat gelagat2 aneh dari pengemis ini.. *misalnya; Ibu2 yg mintain duit anak2 kecil habis mengemis ato org pincang yg tb2 bisa jalan normal begitu ”si pincang” merasa waktu ”dinas” nya udah off..*

 

6. Dan usaha2 elo lainnya kalo mau negara kita ini bebas dari pengemis! *pikir sendiri, donk! Masak smuanya gue juga yg ngarahin??? xP*

 

 

Ya, semua itu harus dimulai dari Elo! Dari Anda! Mau ngarepin pemerintah…? Wakakaka… Hare gene..??? Yah, seenggaknya saya masi menghargai pemerintah kok atas program ”denda sekian juta untuk orang2 yg memberikan duit kepada pengemis”-nya itu.. meskipun sebenernya gak jarang program ini hanya dipandang sebagai lelucon semata dan susah untuk direalisasikan..

 

Yasudah… Silakan aja kalo bilang saya ini kejam, saya ini gak punya perasaan, gak bisa berempati! Seperti kata2 Guebukanmonyet: “Remember that Life Accepts Differences”. Dah ah, mau bobo dulu… sekalian pengen mimpiin Ibukota bebas pengemis.. zZzZzZz..


 

Overall, No Hard Feeling lho, yaaa ;)

With Love..

-si Nona-

PS: foto dari sini

Related Posts

Put your related posts code here
  1. 52 Responses to “Duhhh…. Gak Usah jadi "Orang Baik", dehhh!”

  2. Avatar

    By au' on Nov 6, 2007 | Reply

    “Remember that Life Accepts Differences” itu udah inti banget.

  3. Avatar

    By ndoro kakung on Nov 6, 2007 | Reply

    ah, pendapat yang berani. saya suka nih … :D

  4. Avatar

    By didut on Nov 6, 2007 | Reply

    hmm.. hidup adalah pilihan, jadi mengemis juga suatu pilihan? :D

  5. Avatar

    By Nico Wijaya on Nov 6, 2007 | Reply

    Wah,bru tau ada keritiKentang, kan enak tuh sambil nongkrong di postkamling, sambil ditemani keritikentang.
    Si jumi n si nona.Hemm..*sambil mikir n ngangguk2 :p*
    @nona: bneran lu pernah nyenggol gw di ym. Kok gak berasa?Id lu apa non?

  6. Avatar

    By - Nilla - on Nov 6, 2007 | Reply

    Ayahmu itu ayahku jg toh, nduk… xP
    he’s the best! ;) dgn semua ajaran2nya itu.
    beliau bukannya mengajarkan kita utk angkuh, tp “how to be struggle” dan ga cengeng!
    Seperti yg Papa pernah bilang, “Hidup itu keras! Dan kita harus bekerja keras supaya bisa menikmati hidup!”

    Opini itu paling ga bisa diperdebatkan.
    Karena watak dan cara berfikir seseorang berbeda2!
    Jd yah cukup “lo dgn cara pandang lo dan gw dgn cara pandang gw!” :)

    Kalo menurut saya pribadi (secara subjektif loh ya…), semua org itu punya kesempatan!
    Sekecil apa pun itu, pasti ada!
    Karena Tuhan Maha Adil!
    Yah, mungkin semua org udh bosen dengernya.
    Tp itulah faktanya!
    Tuhan ga mungkin menciptakan “sesuatu” HANYA dgn kelemahan2 saja.
    Tuhan toh jg ga suka dgn org yg “hanya meminta2″ (nanti gw cariin Hadist nya!).
    Kita sebagai org muslim diWAJIBkan berikhtiar (berusaha).
    Bukan dengan nungguin org lewat trus ngasih duit!

    Emang sih, kadang kasian jg ngeliat pengemis2 itu.
    Ga munafik, hati gw bisa nangis liatnya! *gw ga lg pura2*
    Tp yg bikin gw nangis, “Kok bisa sih mereka jd pengemis?”
    Ada banyak faktor, memang!
    Tp toh skrg udh banyak LSM-LSM yg mau “mungut” dan membimbing mereka!
    Kenapa kesempatan itu ga pernah mereka ambil?
    Atau paling ga, seperti yg lo bilang itu, sist!
    Kalo bisa hidup lebih enak di kampung halaman, kenapa memilih jd pengemis di ibukota?

    :)

  7. Avatar

    By manler on Nov 7, 2007 | Reply

    knpa kaum marjinal tsb sering diutak-atik ya?

  8. Avatar

    By -ian- on Nov 7, 2007 | Reply

    hi nieke…
    pindah blog ya…??
    saya juga pindah nih..di septianbudi.com

    well,
    tetap jadi orang baik ya…karena itu rasa syukur kita…

  9. Avatar

    By leksa on Nov 7, 2007 | Reply

    buat judul nya : “GUE SELALU MAU JADI ORANG BAIK”, harga mati buat gue.. :)

    dan melihat kesinisan tulisan ini untuk HAPUSKAN PENGEMIS itu, gue rasa sinism atau sarkasm atau apapun itu lah, adalah ungkapan semata,.. yang penting toh niat di hati untuk selalu mengusahakan yang terbaik bagi apa yang lu rasa tidak baik..

    Yang saya tambahkan sedikit saja, sejelek-jeleknya manusia adalah yang menghilangkan hak manusia lainnya…
    entah itu pengemis, entah koruptor, entah itu nanti saya atau anda..

  10. Avatar

    By fiandigital on Nov 7, 2007 | Reply

    “Jangan kasih duit itu pengemis. Tidak mendidik!” kata temenku.

    “Saya ndak bisa mendidik, bisanya ngasih,” jawab saya, “Daripada ngasih enggak, mendidik juga enggak….”

    **hehehe, saya suka postingan ini berani beda!!

  11. Avatar

    By huda on Nov 7, 2007 | Reply

    Setuju niek..

    Kenapa pengemis2 gak kunjung2 habis?
    Karena ini bisnis yang menjanjikan… setidaknya bagi mereka.

    Gak sedikit usaha yg udah dilakuin untuk membimbing mereka, memberikan keahlian dan keterampilan, supaya mereka bisa mencari duit dengan cara yang lebih ‘elegan’. Tapi pada kenyataannya, mereka2 yg sudah dibekali ilmu ini pun akan kembali lagi ke jalan. Karena hasil dari meminta-minta itu banyak sekali loh… Apalagi klo utk uang saku sendiri. Ketimbang harus bersusah payah mendayagunakan keahlian yg didapat tapi belum tentu menghasilkan.

    Jadi agar tenaga kerja ‘mengemis’ ini bisa habis, ya.. jangan ciptakan lapangan kerja untuk itu… Uang2 yg tadinya teralokasikan untuk ngasih2 pengemis mending diorganisir untuk mbangun lapangan kerja yg lebih nyata. tul gak?

    katanya oleh2x. kok malah posting beginian… ?

  12. Avatar

    By keritiKentang™ on Nov 7, 2007 | Reply

    @ Au’: yah, tp gpp donk share pendapat.. asal jangan gontok2an aja ;)

    @ ndoro kakung: :)

    @ didut: pilihan? kalo sebenernya lebih baik hidup kembali ke kampung halaman, knapa harus memilih jd pengemis?

    @ nico wijaya: duhhh, komennya mas Nico bener2 OOT banged xP iyaaa, pernah skali!

    @ - Nilla -: tuhhh, buat yg nyari2 hadist, tanya ke si Jumi aja, yaaa ;D opini mmg gak bisa diperdebatkan. yg terpenting gimana cara kita mempertanggungjawabkan opini kita itu. jd ndak asal cuap2 aja gitu. iya, saya juga kasihan mbak Jumi. cuman ya itu.. rasa kecewa saya masih lebih besar dibandingkan rasa kasihan saya :(

    @ manler: karena mereka juga mengutak ngatik Ibukota.. *at least bagi pemerintah kita dan masyarakat berada*

    @ -ian-: hi juga yan.. enggak, kok! gak pundah. jadi orang baik bole2 aja. bole banged malah! yg saya bilang di sini “Orang Baik”. bukan makna yg sebenarnya. smoga kamu ngerti mksdnya ;)

    @ Leksa: hahaaaaaa…. sinis dari Hongkong? saya nulisnya sambil senyum manis, lho :P tp gpp juga kalo lo ‘nangkep’nya sinis ;) nah itu, komen lu di paragraf kedua bener banged tuh! banyak kiasan yg gw pake di sini. pinter2 lo nangkep maknanya aja :) makasih atas tambahannya, jal. pernah merasa dihilangkan hak lo?

    @ fiandigital: kalo saya lebih memilih mendidik! NDAK USAH kasih2! itu malah ndak mendidik sama skali! at least bukan cara mendidik yg benar. thanks ;)

    @ Huda: nahhh, itu yg aku mksdkan Huda *asiiiikkk, ada juga yg bener2 nangkep pointnya! xD* skalipun sedikit, lebih baik recehan2 yg mau dikasih ke pengemis itu dialokasikan untuk membuka lapangan pekerjaan ya Huda!? kalo pengangguran pada bekerja, khan gak ada lagi yg ngemis, taraf hidup jd meningkat! betul tida’? soal oleh2 itu.. hehe.. ampuuuun, ndak bawa apa2 :D

  13. Avatar

    By za on Nov 7, 2007 | Reply

    ya, za juga setuju…

    para pengemis itu, akan akan semakin manja dan tidak ingin pindah profesi. .. dengan betah duduk lama di tepi trotoar atopun jembatan…. *fyuuuh*

    btw, salam kenal ya….

  14. Avatar

    By Sandy on Nov 7, 2007 | Reply

    Kampret! Gw suka gaya kalian yg ini! Gw link blog kalian yg ini deh, yg blog kalian (yg isinya kayak ABG) gw buang aja. Hkahkahkahka..

    salam kenal! ;P

  15. Avatar

    By lady on Nov 7, 2007 | Reply

    sebagian besar aku sependapat dgn opini nieke,,

    *berarti ada sebagian kecil yah? :D*

    intinya, sebenarnya Allah itu memberikan rizqi yang sama untuk makhlukNya. besarnya yang di dapat tergantung masing2 makhluk (baca: manusia) dalam berikhtiar.
    dalilnya insyallah menyusul ya :)

    beberapa bukti pernah ditemukan bahwa pengemis yang datang ke malang sebenarnya mampu (kaya) di kampungnya (luar malang).

    bahkan suamiku menemukan pengamen di solo yang ternyata rumahnya tergolong bagus, jauh dari kesan pengamen. ternyata mengamen itu merupakan mata pencahariannya. entah dia mengamen dengan modal bakat ato nekat.

    wallahu a’lam bishowab

  16. Avatar

    By Rey on Nov 7, 2007 | Reply

    “When there’s a will, there’s a way”, jadi kyknya no excuse buat pengemis.

    Truss… kalo pengamen tu gak bisa dikategorikan ngemis deh, terutama yg ngamennya sungguh2 ya, itu mah emang profesi.

    Btw above all, gue suka fotonya :))

  17. Avatar

    By keritiKentang™ on Nov 7, 2007 | Reply

    @ za: berarti mbak juga ndak berminat tho menjalani profesi itu? :D salam kenal juga ;)

    @ Sandy: Geblek! jangan maen buang2 aja lo, Sand! khan eQsis donk ‘judul’nya B-) ngelink? asiiiikkk! Anda org pertama yg berniat ngelink blog ini! hayooo, ngarepin jalan2 gratis bareng si kembar yahh? xP salam kenal juga *ngoookkk :P*

    @ Lady: nah, itu juga salah satu bukti. bahwa sebenernya mereka juga bisa suskes di kampungnya ;) eh, tapi tapiii, kayanya karena mengamen, mbak? hahaaa itu mah sama aja! well, kalo memang suaranya bagus sih wajar dijadikan profesi, nah kalo suaranya pas2an? haduh, gak kebayang deh berapa org yg dia “paksa” buat ngasih duit sampe dia bisa kaya gitu. hihiii x)

    @ Rey: semboyan yg bagus mbak, Rey! smakin menguatkan opini bahwa mereka itu “bekerja” karena dikasih kesempatan ;) soal pengamen jawabanku idem sama jawaban mbak Lady Elen. soal foto… hehe, “ngerampok” dari situs tempointeraktif, sumber udah dicantumkan kok mbak :D

  18. Avatar

    By Si Jagoan Makan on Nov 7, 2007 | Reply

    Pedesssss..banget opininya. Tapi ngga apa cocok buat bumbu keripik kentang

  19. Avatar

    By Hadingrh on Nov 7, 2007 | Reply

    seru juga blognya…hehe
    mau ngasih komen dikit ah, boleh kan ?
    pengemis, bukanlah fenomena baru .. sejak dulu juga sudah ada.
    di al quran kata2 miskin banyak sekali, dan keharusan kita untuk menyantuninya [salah satunya di surat ke 107]
    artinya ini ada sudah fenomena sosial yg gak bisa terelakan. akan selalu ada setiap jaman. gak akan ada orang kaya, kl si miskin gak ada… vis versa.
    masalahnya adalah, apakah si miskin akan menetapkan diri mengambil profesi sbg pengemis seumur hidup ?
    memang benar, “Tuhan tidak menyukai orang yang senantiasa meminta2 di dalam hidupnya”.. dan seharusnya ini menjadi pijakan hidup buat setiap orang sehingga mau terus berusaha.
    dan di sisi lain buat orang yg diberi kecukupan rizki harus berpijak salahsatunya pada surat 107 tadi.

    salam,
    [hmmh, .. ada gak ya diantara pengemis2 itu ada orang yg benar2 bukan sbg profesi ? siapa tau ada yg bener butuh .. siapa tau anak2nya di rumah memang lagi menangis krn lapar, sedang untuk mengemis, sebenarnya dia terpaksa dan melawan malu ? idealnya sih hidup orang miskin ditanggung oleh negara, sesuai amanat pembukaan dan pasal UUD.. tp saya jg ngerti koq, negara kita itu termasuk negara miskin yg terus disantuni dan dikasi utang mulu. jangankan ngurus orang miskin, untuk biaya pembangunan aja ripuh :(]

  20. Avatar

    By isnuansa_maharani on Nov 7, 2007 | Reply

    saya ga suka pengemis.
    penjelasannya mirip yang sudah diuraikan Bu Guru Nona :)

    Tetapi memang kemiskinan yang nggak kunjung habis di negeri ini sangkut pautnya dengan banyak hal. salah satunya faktor pendidikan [yang dananya jauuuh dari yang diamanatkan UU sebesar 20%], menjadikan orang bodoh dekat dengan kemiskinan. karena nggak mampu “bersaing” dengan yang lainnya, ditambah mental mereka yang memang lemah, nggak mau bekerja keras, ya jadilah dipilihnya “pekerjaan” mengemis.

  21. Avatar

    By andri on Nov 7, 2007 | Reply

    pendapat yang bagus ! saya suka dengan keberaniannya mengungkap sesuatu yang berbeda sisi, two thumbs up !

    Saya juga rada gak suka pengemis, selain karena saya pernah tahu ada sindikatnya, saya juga tahu bahwa sebagian dari mereka memang malas kerja selain ngemis.

    Tapi saya tetep sering ngasih ke pengemis, karena saya berpendapat bahwa “Saya niatnya ngasih dan ikhlas, perkara si pengemis itu bohong ataupun malas itu bukan urusan saya, toh Tuhan gak pernah salah dalam membalas perbuatan orang.” Prinsip yang sama diterapkan dalam kaitannya antara membayar pajak dan korupsi aparat pajak :-)

  22. Avatar

    By keritiKentang™ on Nov 7, 2007 | Reply

    @ Si Jagoan Makan: duh, si mbok.. teuteup yaaa, melihat sesuatu seperti makanan. heuheuheu xD

    @ Hadingrh: mau komen bole, kok :D perlu diperjelas di sini mas Hadi, yg saya tekankan adalah “Pengemis”, bukan “Org Miskin secara umum”. saya juga udah bilang di atas, kalo saya udah cape’ ngarep2 pemerintah :) so, mari mulai dengan diri kita sendiri! owya, makasih banyak atas ayatnya, mas :) buat yg nyari2 hadist bisa terbantu.

    @ isnuansa_maharani: hahaaa… bu guru dari Hongkong?! :P bener juga, mbak. sebenernya kalo pendidikan dibenahi, pasti ndak ada yg mengemis! ya iyalahhh, emangnya ada org2 berpendidikan yg mau ngemis2 gitu? *ohhh, tentu tidak!*

    @ andri: makasih :) haduh Pak, saya cuman teringat komentar ayah saya soal nyumbang menyumbang ke pengemis ini: kalo pun kita tidak ingin berbuat dosa, janganlah kita memancing orang untuk berbuat dosa! karena kalo kita ngasih duit ke mereka, berarti kita spt membuka “jalan” bagi mereka untuk mengemis, donk! ini yg membuat mereka betah dan menjadikannya profesi. hemat saya, JANGAN KASIH! sekecil apa pun nominal receh yg Bapak berikan :)

  23. Avatar

    By leksa on Nov 7, 2007 | Reply

    “Hak” gue dihilangkan?

    ad nik…

    Hak gue untuk mencintainya…

    *plakk..!! “Srius atuh Jal”, dikemplang nieke..

  24. Avatar

    By -Fitri Mohan- on Nov 8, 2007 | Reply

    good point niek. btw, blogmu yang ini keren.

  25. Avatar

    By Anang on Nov 8, 2007 | Reply

    muantabbb

  26. Avatar

    By Iman Brotoseno on Nov 8, 2007 | Reply

    bukankah kita semua pengemis dan miskin di mata Tuhan ?..dengan mudahnya menjadi pengemis ampunan dan miskin akhklak..

  27. Avatar

    By CempLuk on Nov 8, 2007 | Reply

    sabar mbak nieke..jgn emosi..sabar..

  28. Avatar

    By triadi on Nov 8, 2007 | Reply

    sayang…para pengemis ga pada onlen, so ga baca ni tulisan..:D

    pertama miskinnya pengemis di indonesia ni karena dimiskinkan,seperti halnya bodohnya juga karena dibodohkan (skenario manusia). Jadi kok rada ga pas juga ya nyalahin korban habis habisan.

    kedua Anda mau ngasi ato engga ke mereka ya terserah Anda, dan kalopun ada yang ngasi, saya pikir itu udah skenario Gusti Allah dalam hal ngebagi rizki..masalah diterima sebage amal ato engga,ya feel free aja…

    ketiga apakah Anda merasa lebih baik dari mereka semua para pengemis itu? lebih layak masuk surga?

  29. Avatar

    By LifeByYourHand on Nov 8, 2007 | Reply

    percuma juga kalo jadi orang baik kalo di hatinya riya dan sombong..,mending gak usah..sah..sah..

  30. Avatar

    By keritiKentang™ on Nov 8, 2007 | Reply

    @ leksa: halahhh ijal…. kisah cintamu itu, nakkk.. nak… xP

    @ -Fitri Mohan-: makasi uni. masi banyak blajar dari uni, kok ;)

    @ Anang: :P

    @ Iman Brotoseno: menururt saya kurang tepat kalau dikatakan mengemis. kita bukan mengemis om, sama Allah. tapi menyembah. lagipula Allah juga mewajibkan kita untuk berikhtiar :)

    @ CempLuk: hahaaa.. ini aku nulisnya sambil senyum2 ga jelas lho, Ndi :D

    @ triadi: pertama, *spt kata ijal* sejelek2nya manusia adalah manusia yg menghilangkan hak manusia lainnya. at least kalo kita gak ingin menjadi manusia yg “jelek” ini, gak usah ikut2an ngebodoh2in manusia lainnya. ga usah memiskinkan manusia lainnya. kalo kita ngasih duit ke pengemis itu kan sama aja dengan kita ‘membantu’ mereka untuk memiskinkan akhlak mereka dengan tidak berikhtiar.

    menyalahkan habis2an? terserah saja Anda mau berfikir seperti itu. di sini saya hanya ingin membukakan pikiran orang2 yang selama ini -mungkin- telah keliru menyikapi fenomena ini.

    Kedua, rezeki masing2 org itu memang sudah diatur oleh Allah. tapi, kita yang menentukan prosesnya. baik, atau tidak. jadi sebenernya yg saya tekankan di sini bukan masalah hasil, tp bagaimana prosesnya!?

    Ketiga: ya Allah, siapa sih saya sampe bisa menentukan diri saya ini lebih baik dari org lain atau tidak? apalagi sampe tau bisa masuk surga/enggaknya! yang tau itu kan cuma Allah. kita cuma bisa berusaha menjadi manusia yang lebih baik.

    Overall, makasih atas sharenya om Trie. komen spt ini yg saya tunggu2. menggugah saya untuk mau memutar otak :)

    @ LifeByYourHand: betul sekali. hati orang siapa yang tau..? ;)

  31. Avatar

    By Sarah Utami on Nov 8, 2007 | Reply

    Gue setuju sama Nieke. Pengemis jangan dikasih ati. Dengan kita gak ngasih duit, kayaknya itu solusi yang solutif. Btw LSM bukan punya pemerintah lho Niek..itu kan Non Goverment Organization (O-nya lupa). Satu lagi, gue ada kenalan tunanetra yang gak manfaatin “kelemahan”nya buat nyari duit. Malah dia kerjanya di bidang IT dan melek blog juga. Buka aja blognya :www.ramaditya.com

  32. Avatar

    By Cipoet on Nov 8, 2007 | Reply

    mau berbagi cerita juga…maaf jikalau OOT

    http://cipoetslegacy.blogspot.com/2007/11/kaya-gusur-miskin.html

  33. Avatar

    By faisal a.k.a Jo a.k.a Paijo. on Nov 9, 2007 | Reply

    Dengan tidak memberikan uang kepada pengemis saya kira bukan cara yang solutif mbiar pengemis ilang. Solusinya apa Jo?, saya ndak tahu..

    Pengemis ituh, berlindung dibalik [di(spasi)balik] rasa simpati dan belas kasihan orang untuk nyari duit. Saya ndak suka, tapi juga ndak tega.

    Mhuehuehuehue….sukses OOt sangadh!

  34. Avatar

    By macangadungan on Nov 9, 2007 | Reply

    satu hal yg membuat pandangan gw tntg pengemis itu jatuh… gw melihat seorang pengemis yg megang2 karton bertuliskan “ingat, 2,5% dari harta anda adalah hak kami!” sambil minta2 duit ke orang…

    wtf

    jujur aja, gw termasuk org yg ikhlas ngasi duit ke pengemis. mau gw salah ato bner, bodo amat. gw ga peduli. dibilang pembodohan, so what? gw jg menilai kok, mana pengemis yg layak dikasi mana yg ngga. yg mukanya acting gtu sok sedih..yg badannya sehat, yg udah pada gede…gila aja klo ngasi ke mreka.. mending gw kasi ke pengamen apa anak kecil.

    gw ga suka pengemis, sekali lg. apalagi mreka suka manfaatin perasan org2 dengan meminta belas kasihan (pdhl siapa tau duitnya malah buat mabok??)… tp gw tetap memperlakukan mrk selayaknya manusia. toh manusia yg hidupnya lebih baik (baca:tajir, ga perlu ngemis, tinggal minta ortu) dan teratur jg banyak yg suka boongin org lain kan?

    idenya bagus… tdk memberi sedekah ke pengemis untuk membuat mereka ga manja lg. tp mudah2an soal sikap kita ke mereka jg ga merendahkan ato menghina mreka… di mata Tuhan kan kita ama mreka ini sama, ga pduli siapa yg lebih nyusahin ato siapa yg lbh bnyk dosanya. ya ga?

    oke..kita jgn ngasi sedekah ke mreka.. tp tetep hargain mreka sbg sesama manusia, walau mreka nyusahin, nyebelin,manja, males dst..
    ya ga?

  35. Avatar

    By Fatah on Nov 9, 2007 | Reply

    Ngomong2x soal pengemis !! di Aceh juga sedang marak tuh *tetep donk nge-Bahas ttg Aceh :)*….

    Ada cerita menarik disini, waktu itu di Banda Aceh (kota yang sangat kecil) sempet ada pengemis yang punya semacam ‘gondok’ besar di sekitar lehernya.. yang akhirnya dimanfaatkan utk menarik simpati para “orang baik” yang mau memberi sedikit uang…

    Dan beberapa bulan lalu, katanya sempet ada NGO asing yang ingin memberinya pengobatan gratis untuk operasi tuh penyakit.. tapi karena si pengemis itu mikir kalo ntar dah sembuh ngga bakal bisa manfaatin ‘gondok’ itu utk dapet duit lagi.. akhirnya ditolaklah tuh tawaran operasi gratisnya :(

    dan gosip ‘penolakan’ itu pun menyebar di Banda Aceh, akhirnya si pengemis itu pun berkurang omzetnya, dan pindahlah dia ke lhokseumawe untuk dijadikan tempat beroperasi yang baru :(

    *maaf nih.. malah jadi nge-Blog disini ^.^

  36. Avatar

    By keritiKentang™ on Nov 9, 2007 | Reply

    @ Sarah Utami: hehe, iya atuh mbak Sar. saya juga ndak bilang kalo LSM itu punya pemerintah :D yg saya bilang kalo saya dah cape’ nyalah2in pemerintah, LSM bs bantu brgkali? ;) wah, salute ada org cacat yg handal spt itu. nanti tak check blognya :)

    @ Cipoet: makasih sharenya, mas/mbak :)

    @ faisal a.k.a Jo a.k.a Paijo.: iya, Jo. jadi solusinya apa donk Jo? apa??? *tarik2 baju Paijo xP* ndak suka sama ndak tega emang tipis banged yak jaraknya? kayak benci dan cinta *tsssaaaahhh xD*

    @ macangadungan: hah? pernah lihat yg megang2 karton gitu, mbak? niat amat yak??? soal kasih mengasih itu kembali ke kamu lagi, itu hak kamu. saya cuma mengutarakan pendapat ;) tp tenang aja, sekalipun ndak suka saya ttp memperlakukan mereka spt manusia. kejam tp teuteup donk bernurani ;D

    @ fatah: hahaaaa, mas Fatah ini Aceh banged, yak? wah, bagus banged tuh mas infonya. saya belum pernah denger. berarti dia memanfaatkan kelemahan dia donk kalo gitu. ck..ck..ck.. ironis sekaaaaliii

  37. Avatar

    By nez on Nov 10, 2007 | Reply

    wuih nice view…tp emang sih,,tu pengemis2 dikasih hati minta jantung..
    trs ada lg yg suka pura2 kesenggol mobil n malah malak di mobil..ceeeh

  38. Avatar

    By aLe on Nov 10, 2007 | Reply

    Jrit..
    benar2 keritik kentang yang renyah *tepuk tangan*

    sepakat banget Non, (yang mana Le?) semuanya lah..
    cukup logis dan perlu direnungkan, So! jangan pernah mau jadi orang biasa ;)

    *mentang2 fans club BBB neh* :lol:

  39. Avatar

    By didut on Nov 11, 2007 | Reply

    @ didut: pilihan? kalo sebenernya lebih baik hidup kembali ke kampung halaman, knapa harus memilih jd pengemis?

    lebih baik menurut siapa? menurut kamu? kalo menurut mereka lebih baik mengemis? mereka juga berhak untuk memilih pilihan mereka sendiri khan (dgn segala resikonya :D )

  40. Avatar

    By macangadungan on Nov 12, 2007 | Reply

    wah… ga mengikuti pandangan lo ko, ke… cm mau berdeal aja ama pandangan lo itu. hehehhhe… biar gw bisa obyektif

  41. Avatar

    By keritiKentang™ on Nov 12, 2007 | Reply

    @ Nez: mobilnya sampe digores gitu? beneran? pengalaman pribadi, mbak? :(

    @ Ale: huuuuwww, Ale mah sepakat2 aja. sepakat sama apa hayooo? :P teuteup gitu ya Ale BBB nya.. memang Chelsea banged :P :D

    @ Didut: lha? kalo menurut saya sendiri berarti saya egois, donk! ya yg baik bagi orang banyak donk mas Adi. seperti teori Utilitarisme yg saya ungkapkan di atas itu ;) kalo ngomongin masalah hak mah memang mereka bebas untuk memilih, tp bebas yg bertanggung jawab :)

    @ Macangadungan: iya, ok. dimengerti. bagus kalo bisa melihatnya dgn objektif :)

  42. Avatar

    By dinda on Nov 13, 2007 | Reply

    mantab!
    saya sepakat. saya juga gak suka ama pengemis, pengamen yang suaranya cuma ganggu pendengaran aja, ama atu lagi, pak ogah..

    saya juga pelit kok ama para pengemis dkk. kalo dikasi mulu, kapan mereka usahanya?? mengemis di bawah terik matahari dan derai hujan (halah) itu bukan usaha.

    bah, salut sama tulisannya, bisa meneerjemahkan apa yang ada di pikiran saya…
    hihihi, masalahnya saya pengen posting bahan ini tapi gak bisa menuangkannya dalam bentuk tulisan.

  43. Avatar

    By Aryo on Nov 13, 2007 | Reply

    dulu selalu berpikir kalo mau ngasi duit ke pengemis…
    “buat apa ya duitnya…”
    “jangan - jangan disalah gunakan…”
    pada akhirnya aku sampai pada kesimpulan-ku sendiri, yaitu ngasi duit ke pengemis yang aku rasa pantas mendapatkan. misalnya orang - orang tua, atau orang cacat.

    emang bener, orang cacat bisa juga bekerja, tapi tentu kesempatannya tidak seperti kita. siap tau, duit dari kita bisa dia gunakan dengan baik untuk usahanya. untuk orang - orang yang sudah tua, mereka bisa bekerja keras, tapi ko’ rasanya ngga’ tega untuk berlalu begitu tanpa berbuat apa - apa.

    siapa si yang suka jadi miskin? ;) aku juga ngga’ suka liat para anak muda yang masih bisa melakukan banyak hal cuma meminta - minta di jalan. aku juga pernah berpikir, apa kalo aku terus ngasi duit membuat mereka manja dan ketagihan buat ngemis.

    pada akhirnya penilaian masing - masing, mungkin ngga’ bijak tapi aku berpikir positif, semoga sedikit uang yang aku berikan bisa bermanfaat.

    **btw, dari kemaren” aku bacanya “keripik kentang” :d

  44. Avatar

    By sandy eggi on Nov 14, 2007 | Reply

    @aryo : wah kesempatan seperti apa nih yang bisa buat orang-orang cacat?

    menurutku pendidikan dari ortu dan lingkungan berpengaruh besar bagi semua orang. saya dibesarkan di keluarga yang sangat mementingkan pendidikan, di keluarga yang berharap anak-anak pasti lebih dari orang tuanya.

    dari situ saya berpikir untuk “memilih” tidak mengemis dan meminta-minta. meskipun sampai sekarang saya tetap jadi pengemis dalam bidang pendidikan.

    kalau orang tua saya jadi pengemis di jalanan, dan mereka tidak memaksa saya menjadi orang yang lebih baik mungkin saya juga kan memilih jadi pengemis saja.

    cobalah untuk melihat lebih dalam kehidupan mereka. mungkin ada yang palsu, ato mungkin ada yang asli. yang palsu mungkin sering kita liat liputannya ya di TV-TV.

    oot : padahal aku dah mau ngamen dan ngemis di negara orang… kan ngga malu kayak di indo .. :)) eh ada kritik abis-abisan, jadinya mikir-mikir deh…

  45. Avatar

    By keritiKentang™ on Nov 15, 2007 | Reply

    @ Dinda: hahaaa, jangan2 mbak Dinda ini kembaran si Nona yang satunya lagi. secara banyak banged kesamaannya. sama2 kuliah di TRXSXXTI, sama2 punya kenangan di Grogol, sama2 punya e-mail dengan maskot HEBAT, nah skarang, sama2 punya pemikiran yg sama tentang pengemis. hehehe :D postingan jangan terlalu dipikir2, mbak. biarin aja ngalir begitu saja. pasti bagus deh hasilnya. apalagi kalo mood nya juga lagi pas. ditunggu postingannya soal pembahasan yg sama, ya ;)

    @ Aryo: pembenaran Aryo boleh juga. makasih udah share. tp saya punya pendapat sendiri kalo kesempatan kerja antara org cacat dan tidak cacat itu harus sama. harus! kalo memang dia qualified, knp enggak? yah, mkspn kayanya byk aja org2 yg mengunderestimate org2 cacat ini. ok, pd akhirnya saya cuma bisa berharap, smoga aja pengemis2 yg Aryo kasi duit itu juga mempunyai harapan yg sama dengan Aryo dan org2 lain yg juga ikut memberikannya duit ;)

    @ Sandy Eggi: tuh Yo, jawab pertanyaan mas Sandy :D yah, bener banged mas Sand, lingkungan juga pada akhirnya ikut mempengaruhi cara berpikir kita. memang sebaiknya kita membantu org tua kita. tp apa memang bener2 udah gak ada jalan lain yg lebih baik dibandingkan mengemis, mas? yakin ortu yg mengemis juga mengharapkan kita melakukan profesi yg sama dgn dirinya? bukannya ortu cenderung ingin kita melakukan hal yg lebih baik? :) duh, mengemis di negara sendiri aja saya sarankan JANGAN. apalagi di negeri org! jangan dehhh :( untuk org yg ber-multitalented spt mas Sandy, pasti banyak cara untuk punya pendapatan yg halal :)

  46. Avatar

    By wawan on Nov 16, 2007 | Reply

    hay…
    wah wah…
    semua pendapat dsni sebagian besar nurut gue pada bener2 kok…tapi apa bisa kita berbuat yang lebih baik dari mereka kalo kita berada diposisi mereka???coba rasakan dihati apa yang mereka rasakan, kalo yang kalian rasain mereka tuh cuma sekelompok orang pemalas, yah jgn diKasih duit,cuekin ajah, tancap gas, kabur deeeh,,tapi kalo dihati kalian mereka perlu untuk dikasihani, berilah seribu perak buat mereka, mungkin 1000 perak g begitu berarti buat kalian tapi buat mereka 1000 perak adalah sangat besar sbg penyambung nyawa esok hari!!!
    wassalam…

  47. Avatar

    By sandy eggi on Nov 17, 2007 | Reply

    banyak cara yang lebih baek daripada mengemis. tapi kan mengemis lebih gampang kan. tinggal duduk dan minta.

    kadang saya ngerasa masih suka mengemis ke orang laen. maksud nya menerima bantuan dari orang laen gitu. tiba2 kalo mereka ngasih duit masak saya tolak…. :D eh itu bukan mengemis ya?

    pernah ngamen ngga pas organisasi kamu butuh duit buat acara khusus? eh ngamen bukan ngemis juga ya ..

  48. Avatar

    By chigi28 on Nov 20, 2007 | Reply

    setudju :d daripada gagal dan jadi beban di kota pulang aja dech kekampung jangan cuman tinggiin gengsi doank.emang makan gengsi bisa kenyang.

  49. Avatar

    By chigi28 on Nov 20, 2007 | Reply

    saya setudju bahwa bagi warga urban yang gagal lebih baik pulang ke kampung.

    ok people’s must get some change but the fact ur has failed. kebenaran memang kejam.:-w

    nah daripada di JKT dan kota-kota besar jadi gepeng gembel dsb pulang sono ke kampung garap lahan ngga usah pentingin gengsi,

    emang makan gengsi bisa kenyang[-(

  50. Avatar

    By Pengemis Ber-”handphone” Mahal on Nov 22, 2007 | Reply

    …Pengemis itu lalu menyodorkan bekas gelas air mineral kosong yang berisi uang recehan. Lalu ia mengoceh, “Kasihan Pak, kami belum makan 2 hari,” ucap pengemis itu. Kami pun merasa iba dan langsung mencari uang recehan di saku celana dan dompet. Tak berapa lama, terdengar ringtone handphone dengan nada lagu milik grup band yang sedang naik daun, Ungu.

    Di tengah-tengah kesibukan kami mencari uang recehan, tiba-tiba pengemis itu berjalan mundur lalu membelakangi kami. Kami pun heran ketika akan memberikan selembar uang lima ribuan, tetapi ternyata pengemis tersebut malah pergi. Kami malah sempat berpikir apa uang yang kami beri tidak cukup?…

  51. Avatar

    By keritiKentang™ on Nov 22, 2007 | Reply

    @ Wawan: wah, mulia sekali ya mas ini masih bisa berempati sama mereka. yah, terserah masing2 aja. kalo mau kasih, silahkan. smoga saja memang ada manfaatnya

    @ Sandy Eggi: jangan mentang2 lebih gampang trus malah langsung milih jalan itu. males donk kalo gituuu :D

    @ Chigi28: bener banged, mas. apa harus ngandelin pemerintah buat menghalau mereka pulang? duh, gak mungkin ya rasanya

    @ Pengemis Ber-”handphone” Mahal: berarti intinya? hanya dengan mengemis mereka bisa beli HP? dan keluhan mereka yang katanya gak makan beberapa hari itu bohong, khan? see?

  52. Avatar

    By ilyaZ on Nov 28, 2007 | Reply

    Ajarin ngeblog aja, siapa tau jadi bakat yang teraslurkan..nanti malah dimintai, bukan minta-minta lagi..amin..:)

  53. Avatar

    By niez kejar dedlen on Dec 17, 2007 | Reply

    aku pernah denger katanya ada yang bisa jadi tajir gara2 ngemis. sampe bisa beli mobil pulak. udah tajir gitu anak2nya di sebar ke seluruh pelosok pulau jawa buat ngemis dan sukses pulak !! gila ya.
    saya mengemis ajah klo gitu. daripada kulia ga bisa buat beli lebtob… :-\

Post a Comment

:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word

Tentang si Kembar yang jadi Dalang....

Perkenalkan… sepasang anak kembar yg terlahir memiliki bakat alami, yakni : mengkritik sesuatu baik secara sehat maupun tak sehat *yeahhh… artikanlah nyela2 gitu! x)* physicly, we aren’t same! but, soal kritik mengkritik, kami bisa 1 selera! Postingan2 di sini bisa serius banged, bisa juga ngeyel banged.. eeeeniweeeeyyyyy, no haRd feeLing lho, yaaa... More

Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address:  
Find entries :