“Suka - suka Gue, donk…!”
Barusan saya melihat-lihat website Kompas *ceileee.. anak gadis bacanya Kompas. Baca Cosmo, donk!
*. Tapi saya cuma ngelihat-lihat aja. Gak ada berita menarik buat saya selain berita tentang meninggalnya seorang mahasiswa di sebuah Universitas swasta di Jakarta itu. Trus saya close website itu. Soalnya banner flash-nya yang bertebaran di mana-mana membuat mata saya sakit *ini kritikan buat admin website Kompas: tolong donk banner-nya jangan banyak banged gitu..! Yang satu gerak-gerak ke kanan, satu ke kiri, satu ke atas, satu ke bawah.. haduuuhhh, pusing lihatnya!*.
Trus saya berkunjung ke sebuah blog teman. Di sana dia memasang banner yang menuliskan “Kebebasan Menulis adalah HAM”. Saya telusuri link dari banner itu. Ternyata banner itu mengantarkan saya ke sebuah blog yang memostingkan tentang kasus Bersihar Lubis. Bukan, di sini saya bukan mau membahas soal Bersihar Lubis! Biarlah mereka yang berkompeten aja yang membahas, apalagi saya gak gitu ngikutin soal kasus Bersihar Lubis ini. Tapi, yang menjadi perhatian saya adalah soal tulisan kata “dungu” yang disebut-sebut sebagai permasalan di kasus ini.
Saya lihat ada komentator di sebuah blog yang saya kunjungi membahas kata “dungu” yang dituliskan Bersihar Lubis itu dan meng-klaim kata tersebut adalah kata-kata yang kasar. Wajar menuai masalah. Dan pada akhirnya ada pembenaran bahwa Bersihar Lubis hanya mengutip kata ini dari pesan Joesoef Isak *lho, katanya gak mau mbahas soal kasus Bersihar Lubis.. Gimana sih, mbak??!*. Hehe, ok.. kembali ke persoalan yang sebenernya ingin saya bahas..
Saya cuma melihat imbas dari kasus ini. Seorang blogger yang membuat banner tadi *say “hi” to Antobilang
*, menyebut-nyebut bahwa “Kebebasan menulis adalah HAM, blogger untuk kebebasan”. Apa iya? Kalo saya telusuri kasus yang udah-udah soal beberapa blog yang menuai desas desus karena kasus copaslah, kasus hoaxlah.. Juga ada kasus ribut-ribut di blog soal tulisan salah seorang blogger yang membanding2kan Univ. A dan Univ. B yang pada akhirnya timbul kesan saling menjelekkan *maaph, gak usah dilink aja, mengingat kasus2 ini udah anteng sekarang*. Lalu saya teringat juga tentang kasus beberapa wartawan infotaintment yang sempet ribut-ribut sama artis yang jadi objek tulisan-tulisannya - yang konon adalah bohong belaka*duuuwwhh, bisa gak sih ga ngomongin arteyzzz??
*. Apa ini jadi pembenaran? Memang, gak semua orang bijak, menangkap makna dari banner mas Anto itu.
Saya kok kurang setuju ya, kalo tindakan tulis-menulis itu bisa dilakukan dengan bebas, sesuka hati, suka-suka gue, hak gue atau apalah Anda sebut-sebut.. Jadilah seorang penulis yang bertanggung jawab! Saya sempat teringat juga waktu awal saya membuat blog KKTM ini. Seorang temen sempet mengusulkan kepada saya, “Dih, blog loe isinya kritikan2 mulu, Ke’.. Kenapa loe gak anonim aja? Biar aman gitu..”. Aman? Ya, mungkin kalo saya memang mau main “aman” untuk menulis sesuka hati, saya bisa aja anonim. Tapiii, itu sama skali gak fair! Balikkan ke diri Anda! “Lakukanlah suatu tindakan sebagaimana engkau mengharapkan orang lain melakukannya sedemikian” - Golden Rule, Immanuel Kant (1724-1804) *seorang Deontolog yang mengungkapkan tentang salah satu teori etika*.
At least coba Anda bayangkan, kalau saya menuliskan tentang Anda - seseorang yang gak saya suka. Lalu saya seenaknya mengkritik Anda dengan fakta-fakta yang gak jelas, menjelek2an Anda tanpa landasan yang jelas, atau memprovokasi orang-orang yang membaca blog saya untuk ikut2an membenci Anda dengan menebar fitnah sana sini soal Anda. Bijakkah??!! Tentu saja tidak! Ok, mungkin memang ada yang bilang kalo blog ini blog yang penuh dosa, yang bisanya cuma kritik2 aja, nyela2 aja. But at least kami berusaha untuk lebih bertanggung jawab dengan apa yang kami tulis. Menunjukkan siapa kami *soal dibilang narsis itu urusan belakangan. Hehe
*, apa fakta-fakta kami!? Dan soal Anda setuju atau tidak, itu ada pembahasannya. Kalo memang gak seneng, atau belum puas dengan pembahasannya, silahkan kontak via e-mail. See?? Jadilah orang yang bertanggung jawab sedikit! Baik sebagai sosok seorang penulis artikel, atau pun komentatornya!
Overall, saya cuma menghimbau, dan juga masih ada unsur kritikannya juga tentunya *ya iyalahhh! Namanya juga Keritikentang™!
*. Jangan pernah Anda bilang bahwa menulis itu bisa sesuka hati, menulis itu bisa dilakukan dengan bebas. Lakukanlah semuanya dengan lebih bertanggung jawab! Apalagi kalo loe nulis di blog, loe publish.. dan tulisan loe dibaca orang banyak. Sudah seharusnya loe mengingat itu. Kecuali memang loe sengaja untuk bikin riweuh! Hohooowww… That’s not cool, honey ![]()
Huff, saya jadi teringat himbauan dosen saya di kelas saat kelompok teman memprentasikan hasil makalah mereka dan presentasi makalah itu banyak diserang peserta *termasuk saya tentunya* karena mereka sendiri kurang memahami apa yang mereka tulis.. “Cobalah belajar berfikir dulu sebelum menulis.. Jangan nulis dulu baru mikir!” ![]()
PS: gambar dari sini




50 Responses to ““Suka - suka Gue, donk…!””
By Praditya on Nov 22, 2007 | Reply
“Saya kok kurang setuju ya, kalo tindakan tulis-menulis itu bisa dilakukan dengan bebas, sesuka hati, suka-suka gue, hak gue atau apalah Anda sebut-sebut..”
Setuju…
Mungkin boleh bebas kali ya… Asal ditulisnya di buku pribadi yg digembok n gak diliat2 orang. Sekedar membuang amarah…
By antobilang on Nov 22, 2007 | Reply
Apa HAM itu artinya “bebas, sesuka hati, atau suka-suka gue”? Tidak kan?
Saya pikir kita sudah cukup dewasa dan cerdas untuk mengartikan kata “bebas” dan “kebebasan”.
Terimakasih.
By Payjo on Nov 22, 2007 | Reply
Ya..ya..setuju..
Bebas yang bertanggung jawab.
Bebas yang bertanggung jawab seperti apa?
Kalo saya, mengutip kata-kata interogator dungu:
“Saya ndak bisa nunjukin ato jelasin, tapi bisa saya rasain..”. Lah?
By arya on Nov 22, 2007 | Reply
salam,
sepertinya analogi yang Anda pakai di paragraf ke-3 dan 4 dari belakang kurang tepat. Anda bicara tentang HAM atau tentang anonimitas? saya pikir itu dua buah persoalan yang sama sekali berbeda.
karena kemudian kita tau, bang bersihar menulis sudah dengan sangat bertanggungjawab. ia mengkritik, bukan asal ngomong. dan media yang memuat (koran tempo) juga bukan media yang asal2an menerbitkan sebuah tulisan. tentu sudah ada mekanisme check and balances, editing, dlsb.
mohon maaf, sepertinya poin yang Anda sampaikan kabur. mungkin Anda bisa lebih memperjelasnya lagi?
demikian, terimakasih
regards,
arya
By keritiKentang™ on Nov 22, 2007 | Reply
@ Praditya: owya, tentu… kalo hanya sekedar tulisan di diary pribadi yang gak dipublikasikan sih gak papa yaa
@ Antobilang: Whaaaa, mas Anto cepat sekali ngedetect publish-an tulisan saya
Sebenernya, saya juga ndak bilang kalo HAM itu berarti suka-suka. Yang saya fokuskan apakah tulisan Dungu itu bisa begitu saja dibenarkan atas nama kebebasan?
@ Payjo: Owya? wah, siapa tuh mas interogaturnya? kata-katanya bijak juga
@ Arya: Hehe, agak kabur, ya? maaph kalo gitu. Saya ingin menjelaskan bahwa kebebasan menulis harus disertai dengan tanggung jawab. Tentang HAM, anonim, dan kasus Bpk.Bersihar Lubis itu hanya saya jadikan analogi aja. Saya juga sudah baca bahwa beliau hanya mengutip. Semoga sudah jelas mas Arya. Salam
By herru on Nov 22, 2007 | Reply
apa perlu dibentuk badan sensor blog?
By Totoks on Nov 23, 2007 | Reply
menulislah dengan cinta
By icha on Nov 23, 2007 | Reply
kalo soal nulis suka2 gw .. sih sebenrnya gak papa… tapi suka2 gw yg kek gimana dulu…
gw sendiri selalu nulis suka2 gw .. temanya suka2 gw, gila, gak jelas, gak nyambung, serius, bencanda..yah suka2 gw …
tapi mgkn aturannya yg hrs diperjelas… boleh suka2 gw…asal!!! asal sopan, asal gak kurang ajar, asal gak fitnah, dan asal yg lain2 …
so menulislah sesuka kalian…asal…
By Anang on Nov 23, 2007 | Reply
yang penting nulis….. hasrat terlampiaskan
By taqi on Nov 23, 2007 | Reply
ya setuju bebas bertanggung jawab juga dengan cinta n hasrat
…klo ada istilah orgasme intelektual untuk kalangan akademis klo blogger orgsm apa dongkh..
By ojat on Nov 23, 2007 | Reply
mari menulis…mari marii.yuk mareeee hehhehe
By Sarah on Nov 23, 2007 | Reply
Mulutmu harimau-mu.
Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.
Apalagi tuh peribahasa? Mungkin si nona bisa menambahkan?
Bukan mau sok setuju sama tulisan lo jeng Nieke, tapi gimana, lwa wong sependapat semua. Ngeblog itu kan emang ibarat omongan, dan ngomong itu gak bisa sesuka hati, makanya di akhirat ada pengadilannya. Gue setuju jeng, kalo nulis, mbok ya mikir dulu lah.
Hwuaduh makasih lo jeng, jadi tersentil lho eike . Haha..
By leksa on Nov 23, 2007 | Reply
kalo udah perang teori dan kutip mengutip, yoo sama aja ah kayak mau ikut mahzab mana itu…
Anda *ceiee, serasa mengomentari makalah huakakak
* mengutip Kant sang idealektik etika sosial, dan mengkritik sebagian laen pengusung HAM. Dimana (kebanyakan) masih berpijak pada liberal pragmatis dan nasionalisme kiri (saya ga bilang sosialis). Yang satu bicara semau gue-suka2 gue-gaya2 gue, yang satu lagi kumpulan orang2 ga bisa diem kalo ditindas..
Dan lagipula anda ga bisa melepas kasus ini dalam hanya kontek “pembenaran kata dungu”. Turunan kritik anda tidak menjadi valid bersamaan dengan referensi anda tentang teori etika. Ketika saya mengatakan “SBY Dungu”, sapa yang disalahkan? Saya? atau alasan saya?
Satu lagi yang perlu dipahami mengenai batasan etika dalam berpendapat, mungkin berbeda kelas sosial, berbeda mahzab, dan berbeda SARA sekalipun, akan memberikan batas etika yang berbeda2 pula… Meminta common rule? wah kita bakal bicara persepsi sebagai “faktor kebenaran” nantinya.
Jika fokusnya kebebasan menulis dengan tanggung jawab, maka analogi yang anda sajikan sendiri menjadi tidak koheren dengan fokus bahasan. Anonimitas tidak masuk dalam kategori tidak sopan. Anonimitas itu bermanfaat juga kok, menjadi otak pembongkaran watergate, korupsi KPU kmarn, bahkan stimulus awal untuk menggulingkan Suharto. Bahkan bisa saja saya misal, berlaku tidak sopan memaki-maki dan fitnah sana sini tanpa perlu menjadi anonim..
Etika akhirnya kembali kepada individu, Apalagi kalo loe nulis di blog, loe publish.. dan tulisan loe dibaca orang banyak. Sudah seharusnya loe mengingat itu. Kecuali memang loe sengaja untuk bikin riweuh..
Dan sekali lagi, menurut saya masalah Banner dan kasus Bersihar. Totally inkoherent dengan postingan ini, baik dari latar belakang kasus, hingga tuntutan jaksa.
By didut on Nov 23, 2007 | Reply
tulis dulu - pikir kemudian - tulisan diedit - terus diposting
By keritiKentang™ on Nov 23, 2007 | Reply
@ Herru: whaaa, gak ngerti deh. saya ga ikut2an kalo ada badan2 spt itu
@ Totoks: iya, dan cinta itu gak boleh egois
@ Icha: hahaaa, buat aku yang terpenting adalah bahasa setelah kata penghubungnya itu, mbak
@ Taqi: gak ngerti ah. belom pernah kawin
@ Ojat: hiyuuukkkk
@ Sarah: owya? gpp, kalo setuju ya setuju aja. gak usah pura-pura kontra. ntar malah jadi membohongi hati nurani
btw, kalimatku yang mana yg menyentil mbak Sarah? 
@ Leksa: yup, sudah gue duga, jal. komen lo ini sangat Ijal banged, suka mengambil sesuatu secara mentah2! pertama, teori Kant yg gue mksd adalah teori Deontologi yg berdasar pada konsep kewajiban moral. baca donkkk! di sana khan gue bilang kalo kita melakukan A, maka harus siap2 diperlakukan jg spt A. ini yg gue mksdkan adalah dari anonimitas yg disarankan temen gue. soal anonimitas spt apa yg dia mksd nanti gue bales di komen lo selanjutnya.
Kedua, kenapa tidak valid? tho jelas2 gue sudah bilang dari awal gak memahas kasusnya, tp kata dungu nya yg jd perhatian gue. INGAT: BUKAN KASUSNYA! gue hanya tergugah karena kata2 ini jd persoalan
Ketiga, nah kan ini nihhh, salah satu bukti lagi lo nangkep dgn mentah2. Jekkk, gue gak ngomongin soal etika berpendapat! etika itu gue landaskan atas usulan temen gue yg menyarankan gue untuk beranonim! see? lagipula, coba tunjukkan pada saya, mahzab mana yg memperbolehkan kita melakukan sesuatu tanpa jawab? bisa beritahukan saya? mungkin memang pengetahuan saya gak luas soal ini
Keempat, anonimitas yang gue maksud adalah anonimitas yang tidak bertanggung jawab. makanya di sana gue pake contoh kalo gue jelek2in lu dgn landasan gak jelas, ato menebar fitnah soal lo di blog gue trus gue pake identitas anonim. apakah itu dapat dibenarkan secara moral? coba deh jek lu baca lagi kalimat2 gue dgn jeli!
Kelima, skali lagi, SAYA GAK BAHAS SOAL KASUS BERSIHAR-nya! simak donk!
Overall, saya mengharapkan juga buat semua komentator, tolong dibaca yang bener
itu juga kalo Anda2 mau berbaik hati pada saya biar gak kejadian kaya’ gini, saya harus ngejelasin berulang2. heuheuheu.. ada beberapa kemungkinan. yah, memang sih. gak semua org bisa benar2 memahami apa yg kita tulis. begitupula sebaliknya. ato bang jek ini punya dendam pribadi kali’ sama saya gara2 cintanya saya tolak? huakakak, canda bang jek
susahnya kalo Anda hanya mengambilnya mentah2. tolong, simak alurnya, lihat benang merahnya. makasih sebelumnya.
@ Didut: pengalaman pribadi ya, mas?
yah, memang yg terpenting sebelum diposting itu harus dipikir dulu 
By uthie on Nov 23, 2007 | Reply
yg namanya hak, ga dibarengi sama kewajiban mah sama aja boong
jadi kewajibannya adalah mempertanggungjawabkan apa yg sudah ditulis. bener!
By hielmy on Nov 23, 2007 | Reply
hehe.. bener bangat! nulislah sesuka kita, selama tidak melanggar etika dan netiket tentunya….

ekspresikan dengan kaos!!! *loh kok jadi iklan!*
By Kombor on Nov 23, 2007 | Reply
Saya kira kita boleh saja nulis sesuka kita dengan bertanggungjawab. Artinya, kalau kita menulis fitnah, ya kita harus siap-siap menghadapi pengadilan kalau yang kita fitnah membawa fitnah itu ke polisi.
Menulis suka-suka bukan berarti tidak bertanggungjawab kan?
(Hehehe… untung theme saya sedang nggak pakai yang seperti ini).
By wawan on Nov 23, 2007 | Reply
intinya menulis adalah hak asasi..tp kritik2an terhadap seseorang itu bukannya melanggar hak asasi orang yang kita kritik juga??bener g??mereka juga bebas mengekspresikan diri bukan???


By keritiKentang™ on Nov 23, 2007 | Reply
@ Uthie: bener! Uthie pinter deh
@ Hielmy: hahaaa, teuteup ya ada hubungannya sm postingan nya mas Hielmy
kalo yg kayak gini bagusnya tulisan di kaosnya apa ya, mas? 
@ Kombor: betul, memang itulah makna yg tersirat dari apa yg tersurat di sini
hahaaa, bahasaku sdg amburadul inih
owya? pantesan waktu ke blognya om Kombor berasa de ja vu. hehehe 
@ Wawan: hahaaaa, dalem. menohok banged
yah, no pain, no gain. blog ini mmg utk mengkritik, tp kami jg siap kalo someday ada yg mekritik kami selama caranya benar. at least buat kami 
By Tukang Nggunem on Nov 23, 2007 | Reply
Bener itu…kalo kita udah neken tombol “publish” pas mau posting, itu artinya kita bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang akan kita posting itu…entah itu tulisan maupun gambar…Kalo misal isi postingan menghujat pihak laen ya harus berdasar dan siap bertanggung jawab…kalo misal kopas dari blog orang laen juga harus berani ngaku kalo ketauan..kalo ketauan lho..hahaha….
By leksa on Nov 23, 2007 | Reply
ah,.. dont shoot the messenger lah.. gue ga ada dendam pribadi dan gue bukan tipe orang yang membaca sambil lewat,..


justru karena gue sangat mengerti apa yang loe tulis, gue berani ngomong gitu. dan saya membalas karena anda meminta omentar saya selanjutnya
Gini lho Mbak,..
1. Anda ga bisa membahas sekedar kata dungu-nya saja.. coba cerna baik2 komentar saya lagi. Apakah yang menjadi persoalan kata dungu nya? atau alasan dibelakangnya? Got my Idea?
Anda ga bisa mempersalahkan dukungan yang muncul thdp penggunaan kata dungu tsb, sementara anda tidak menarik akar munculnya kata dungu dari Besihar. Dilain pihak para pendukung Besihar melihat secara komprehensif dari awal kasus hingga dia mengeluarkan kata dungu. Ga sinkron menurut saya.
2. Saya tidak bilang ada mahzab yang mengajarkan tidak bertanggung jawab, coba dilihat lagi. Ya mungkin anda menjelaskan di jawaban komentar saya bahwa postingan tidak membahas etika berpendapat,.. tapi saya kan menjawab dari tulisan diatas disana, karena anda menjelaskan etika berpendapat dengan dasar troeri etika kant yang aturan emas itu. Jika anda tanya adakah aturan mahzab yang mengijinkan anonimitas (asumsi saya anda menganggap anonimitas itu = tidak bertanggung jawab), maka saya berani bilang “ada”. Demokrasi kita tidak melarang tuh mengirim surat kaleng, liberalisme juga ga melarang anonim dalam surat kabar. Walau ada mahzab yang menganggap itu terlarang. Bahkan dalam aturan pemilu kita saja, tidak perlu meniggalkan nama di surat suara bukan?
Anda mungkin juga bisa tanya2,.. berapa banyak saksi samar (wistle blower) yang dilindungi dalam hukum ketika proses pengusutan kasus kriminal or korupsi di KPK. Itukan bentuk laporan kejahatan berbentuk anonimitas.
Jadi intinya adalah pada tanggung jawab user. Bukan pada anonimitas nya…
itu menurut saya..
jadi ini menjawab 2 hal.. Tentang masalh banner, dan dungu.. dan tentang anonimitas..
Makasih lho Niek,.. gue cuman memuntahkan pemikiran gue yang mungkin menurut lu dangkal!
By fatah on Nov 23, 2007 | Reply
SETUJU !!! *setuju apa ya???*
Memang yang namanya “Kebebasan” itu ada batas-nya !! tidak ada yang namanya “kebebasan” tanpa batas
By keritiKentang™ on Nov 23, 2007 | Reply
@ Tukang Nggunem: nah lho.. kalo ketahuan gimana tuh mas pertanggung jawabannya?
@ Leksa: maaf, saudara Leksa. sebenernya apa yg saya bahas ini simple aja. sedangkan Anda sudah membawanya sampai ke mana-mana. Karena saya tidak ingin memperlebar pembahasan ini, saya pikir saya tidak perlu menanggapi komentar Anda. Karena ini sudah meleber2 ke mana2 di luar konteks yg sebenarnya ingin saya sampaikan. tapi makasih sebelumnya karena sudah menyampaikan pendapat. sangat saya hargai
@ Fatah: makasih sudah menangkap inti postingan dgn baik
tp sebenernya gak setuju jg bole, ko. selama gak membohongi hati nurani 
By iphan on Nov 23, 2007 | Reply
saya setujuh itu….
tapi gimana nih, sayah lagi bingung mau nulis apa. udah dikasi boleh nulis apa aja di selembar kertas ujian…
By antobilang on Nov 24, 2007 | Reply
Artikelnya udah diedit yak?
Semoga maksudnya tidak berubah.
Begini mbak. BANNER yang saya buat, redaksinya adalah sebagai berikut : Blogger untuk Kebebasan Bersihar Lubis.
Kebebasan menulis adalah HAM.
Adapun mangsut daripada kata-kata di dalam banner adalah :
1. Banner ini bentuk dukungan untuk pembebasan Bersihar Lubis. Bahwa dalam kasus ini telah terjadi praktek kekuasaan yang sewenang-wenang menahan seseorang hanya karena berlawanan pendapat.
2. Kebebasan menulis adalah HAM. Salah satu bentuk cara mengemukakan pendapat adalah menulis, dan pasti semua sepakat bahwa hak menyampaikan pendapat merupakan hak azazi manusia. Tidak perlu panjang lebar diceritakan, kalau semua pernah membaca UUD 45 pasti mengerti.
Saya merasa perlu mengklarifikasi demikian, agar tidak terjadi salah persepsi.
Pun demikian bila memang bahasa dalam banner itu tidak pas, sebaiknya berikan redaksi yang tepat. Dan kritik2 seperti ini memang sepatutnya muncul namun agaknya tidak perlu sampai menjadi perdebatan panjang. Energi kita sebaiknya digunakan secara lebih arif untuk mengawal proses demokrasi dan kebebasan berpendapat di negeri ini (salah satunya berkaitan dengan kasus Pak Bersihar Lubis)
Sekali lagi terima kasih.
By venus on Nov 24, 2007 | Reply
lhah, bukannya ngeblog itu pelepasan? katarsis, gitu? narsis katarsis? halah
maksud gw, jeng…asal gak masuk ke zona berbahaya: SARA, terorism, apapun yang mengganggu hajat hidup orang banyak, mestinya nulis di blog memang suka2 kita, lhoh. that’s the idea of blogging, i guess.
namanya juga blog. weblog= (situs) catatan dan jurnal pribadi, kan? ya jelas personal banget, outputnya bisa sangat warnawarni sukasuka dong, ah…
kalo menurut gw, batasannya ya itu tadi. ngerti etiket dan gak mengganggu stabilitas hidup bernegara. halah apa sih, kok nyampe sana?
By andi bagus on Nov 24, 2007 | Reply
nge blog merupakan kebebasan asal si empu blog tau norma yg berlaku dalam aturan blog sendiri..
By sluman slumun slamet on Nov 24, 2007 | Reply
yang penting nulis!
tersinggung?
bikin tulisan tandingan!!
By keritiKentang™ on Nov 24, 2007 | Reply
@ Iphan: saya lebih bingung lagi harus membalas komen mas Iphan spt apa. maaph, gak mudheng
@ Antobilang: makasih atas penjelasan dan masukannya mas Anto. sebenernya banner yg mas Anto sudah bagus, saya cuma takut masih ada org yg gak ngerti mksd sebenarnya dari kalimat di banner itu. mengingat masi banyak banged blogger yg memang sengaja menulis sesuka2nya, sebebas2nya, dalam hal ini yg saya mksd adalah blogger yg memang bikin riweuh dunia perbloggeran. tentu kita pengen ngeblog dgn dame. mas Anto jg, bukan? tp bener banged, saya jg kurang berminat membuat ini menjd pembahasan yg panjang, karena memang sebenernya yg ingin saya sampaikan ini simple aja. yaitu menulis dgn tanggung jawab
@ Venus: ngerti etiket dan gak mengganggu stabilitas hidup bernegara Good point
@ Andi Bagus: norma apa yg dipake?
@ Sluman slumun slamet: ummmbbb, begitu ya? saya malah kurang setuju, kalo mengatasi masalah dengan masalah
By ekowanz on Nov 24, 2007 | Reply
ctrl + D duluu…lagi cepet2
By pudakonline on Nov 24, 2007 | Reply
ah saya nulis dulu baru mikir
ujung-ujungya ada dikeranjang sampah blog saya itu hehehehe
By NanTo on Nov 25, 2007 | Reply
Ibarat segerombol singa dikurung selama bertahun-tahun dan tiba2 di lepas gtu aja,kira2 kaya apa ya??pasti liar banget kan..
Yach..seperti itulah mayoritas masyarakat indonesia sekarang,akibat segala kebebasan (termasuk informasi) dikungkung selama 32tahun. Segalanya sekarang menjadi “liar tanpa aturan”.
Alangkah baiknya kita menyadari bahwa kebebasan yang kita rasakan bukan kebebasan dalam arti absolut. Dan alangkah lebih baiknya jika kita bisa menjadi generasi yang dapat mengarahkan kebebasan untuk still on the right track.
Gw bukannya anti kebebasan,gw malah mendukung kebebasan (termasuk menulis blog dan mengkritisi sesuatu). Tapi dengan 2 catatan: Bahasa yang Santun dan Bertanggung Jawab.
Kritik itu bukan benar dan salah,,tapi kritik itu adalah Pembelajaran.
By aLe on Nov 25, 2007 | Reply
Yup, ic ic.,
kebebasan yang bertanggung jawab
By aLe on Nov 25, 2007 | Reply
btw, baca koment2 kok jadi penasaran ya postingan ini sebelum di edit
emang di edit bgian mana ya 
By keritiKentang™ on Nov 25, 2007 | Reply
@ Ekowanz: ctrl + C kaliii’
@ Pudakonline: maksudnya Draft gitu?
@ NanTo: iya Nanto, itu juga yg gue takutkan. skarang orang udah pada lupa sama etika-nya ketika kebebasan dijadikan kambing hitam. Dua catatan loe itu memang point2 yg penting
kritik adalah pembelajaran? ummmbbb, menarik 
@ Ale: huuuuw, mau ngetes gravatar aja pake komen 2 kali mas Ale
yg diedit dikit aja, kok. tanpa mengubah maksud tulisan 
By Fany on Nov 26, 2007 | Reply
sekarang aku juga berpikir dulu baru nulis.
tapi yang ada malah blogku gak terupdate selama semingguan gara2 banyakan mikir
By almascatie on Nov 26, 2007 | Reply
nulis yah nulis tapi mesti ngerti yang ditulis oi hehehheheh
By gies on Nov 26, 2007 | Reply
wah jd rame….saya minta linknya blog2 yg disebutkan diatas saja deh hehe
By Manusiasuper on Nov 26, 2007 | Reply
Sudah pernah ke Myanmar, Bu?
By datum on Nov 26, 2007 | Reply
yap… setujuuuh… jadi inget ama kata2 uncle ben di spiderman…
“with great power, come great responsibility”
menulis di blog adalah salah satu bentuk power menurutku… dan dengannya ikut juga responsibility yang harus kita bawa…..
*terobsesi jadi spiderman*
heheheheh
anyway, kita emang perlu keseimbangan… jangan terlalu bebas.. tapi juga jangan terlalu terkungkung… ya kan?
btw, link antobilang-nya kok ke niekehebad.blogspot.com ya?? emang sengaja atau salah dikit nih?
By keritiKentang™ on Nov 26, 2007 | Reply
@ Fany: mikirnya jangan kelamaan, mbak
@ Almascatie: owya, tentunya..
@ Gies: tinggal diklik aja kok, mbak
@ Manusiasuper: belum, Pak. Ada apa di sana?
@ Datum: Hahaaa, obsesi banged ya mas jd Superman sampe quote di filmnya juga dihapalin
Ya ampuuun, beneran deh! Tu link tadinya saya bikin ke blognya mas Anto, kok. Kok bisa keganti, ya?
Tp gpp, dah saya ganti. Makasih atas koreksinya mas 
By yonna on Nov 27, 2007 | Reply
ya betul….berpikir sebelum berbicara, berpikir sebelum menulis, berpikir sebelum bertindak….adalah nasihat yang udah diberikan dari ratusan tahun yang lalu yang sayangnya sering diabaikan dan dianggap gak penting sehingga sewaktu kena getahnya baru deh nyesel
gini, kalo emang mau mengkritik sesuatu terutama hal yang sensitif tolong dipikirkan kembali kira2 apa dampak yang mungkin timbul dan apakah kita cukup kredibel dalam menghadapi dampak2 tersebut? kalo emang kepengen banget mungkin cukup untuk konsumsi pribadi atau untuk segelintir orang tertentu saja yang bisa membacanya, bisa mengubah settingan di web blog kita kan ya?!
karena pikir adalah pelita hati….salam
By leksa on Nov 27, 2007 | Reply
mau info ajah..
woi kembar,.. gue udah balik dari pertapaan lembah Buni Wangi
By macangadungan on Nov 27, 2007 | Reply
gw rasa…menulis memang adalah sebuah HAM
TAPI… yang harus diinget, sifat HAM itu TIDAK tak terbatas. itulah yang gw inget dr apa yg telah gw pelajari tentang hak.
HAM itu dibatasi oleh HAM orang lain. itu mutlak. gimana caranya..kita menggunakan hak asasi tanpa menyinggung/mengganggu hak asasi org lain.
misalnya klo gw nulis blog yg intinya menghina elo, berarti gw udah melanggar hak lo untuk hidup tenang tanpa diganggu oleh gw. berarti gw udah melanggar HAM lo. dan itu berarti gw yang salah…
sayangnya…bnyk org kita masih salah ngertiin tntg HAM. yuk…rame2 kita buka buku PPkn lg. hehehehhe….
btw MANUSIA SUPER >> emang ada apaan di myanmar? bneran penasaran nih…
By manusiasuper on Nov 28, 2007 | Reply
Di myammar bu, jangankan menulis, berpikir saja kita dilarang…
By keritiKentang™ on Nov 29, 2007 | Reply
@ Yonna: ya, mungkin itu bisa dijadikan salah satu cara kalo persoalannya mau dibahas lebih private lagi
@ Leksa: welkom bek
@ Macangadungan: hahaaa, kayaknya si Lea nih dulu nilai PPKn nya bagus deh. hehe
owya, itu si manusiasuper sudah menjawab 
@ Manusiasuper: owya? Wahhhh, saya baru itu mas. Berpikir dalam artian apa ini, mas? Masih terlalu klise. Tp makasih, ya, atas share infonya
By mitra w on Nov 30, 2007 | Reply
eleuh… si eneng kembar makin pinter aja euy
btw, setuju neng… suka gak suka ma blog anonim yg isinya sekedar manjatuhkan sana-sini. Jangankan blog, wong comment anonim aja kalo isinya menghujat trus ga ada jejak…(gak semua emang).
itu namanya lempar batu sembunyi tangan…
By Efendi on Dec 6, 2007 | Reply
lam kenal mbak saya baru belajar blogwalking nech, sering mampir ke kritikentang.com/
ingin menanggapi tulisan mbak “suka-suka gue donk!”
iya saya setuju bahwa ada batasan tertentu dalam menulis. namun batasan itu tidak dapat di definisikan. tergantung tingkat kebijaksanaan penulisnya menurut saya.
misalkan sesuai kata Immanuel Kant “Lakukanlah suatu tindakan sebagaimana engkau mengharapkan orang lain melakukannya sedemikian”.
jadi semisal X menulis tentang kejelekan b.namun ia tidak keberatan B membalas tulisannya dengan menjelek-jelekkan X maka adalah bebas bagi X untuk menerbitkan tulisan itu.
masalahnya selain X dan B dimasyarakat ada a,c,d,e,f,dst merekalah yang tidak bisa menangkap kebebasan ekspresi X dan B dan mereka inilah yang membuat amsalah X dan B menjadi runyam.
jadi kebebasan menulis itu bagi seorang penulis adalah mutlak. jika kebebasan itu dibatasi oleh aturan moral masyarakat umum maka dengan sendirinya sang penulis dijajah oleh opini masyarakat.
Wassalam
Efendi Susanto
By meitymutiara on Jan 23, 2008 | Reply
dari blognya rey, mampir kesini … untuk pertama kalinya. salam kenal.
“Kebebasan menulis adalah HAM, blogger untuk kebebasan”. Apa iya? Kalo saya telusuri kasus yang udah-udah soal beberapa blog yang menuai desas desus karena kasus copaslah, kasus hoaxlah.. Juga ada kasus ribut-ribut di blog soal tulisan salah seorang blogger yang membanding2kan Univ. A dan Univ. B yang pada akhirnya timbul kesan saling menjelekkan *maaph, gak usah dilink aja, mengingat kasus2 ini udah anteng sekarang*.
Bohong kalau dibilang blog adalah tempat yang bebas berekspresi. Seperti potongan kalimat diatas buktinya, lalu pernah baca postingannya pak Iman, lalu pengalaman pribadi yang akhirnya membuat aku memutuskan untuk menghapus blog pertamaku. Akhirnya, diblog yang sekarang ini aku lebih hati-hati untuk menulis. Sebagian teman yang sangat mengenal aku sampai protes, tapi mereka tidak pernah tau true story behind the scene.